sejarah streetwear

bagaimana budaya pinggiran membajak industri fashion mewah

sejarah streetwear
I

Pernahkah kita melihat sepotong kaus katun putih biasa, namun harganya setara dengan motor matic bekas? Kaus itu tidak anti-peluru. Tidak juga ditenun oleh tangan-tangan peri pegunungan. Bedanya hanya satu: ada logo kotak merah bertuliskan Supreme, atau mungkin coretan panah khas Off-White. Secara logika dan hitungan material, ini jelas tidak masuk akal. Tapi secara psikologi, ini adalah sebuah fenomena yang luar biasa brilian. Bagaimana bisa pakaian yang dulu identik dengan para pemain skateboard berlutut lecet dan anak-anak hip-hop di pinggiran jalan, kini mendominasi panggung mode dunia? Mari kita bedah sejarahnya bersama-sama. Ini bukan sekadar cerita tentang selembar baju. Ini adalah studi kasus tentang bagaimana kultur pinggiran berhasil meretas sistem otak manusia, lalu secara perlahan membajak industri fesyen paling elitis di dunia.

II

Untuk memahami anomali ini, kita harus mundur ke era 1980-an dan awal 90-an. Di pantai California, seorang pembuat papan selancar bernama Shawn Stussy mulai menorehkan tanda tangannya di atas kaus. Di saat yang sama, di sudut Harlem, New York, seorang penjahit jenius bernama Dapper Dan mulai menyablon tiruan logo merek mewah seperti Gucci dan Louis Vuitton ke jaket kulit pesanan para rapper lokal. Kenapa mereka melakukan ini? Ilmu psikologi evolusioner punya jawabannya: kebutuhan dasar manusia untuk diakui. Anak-anak muda pinggiran ini tidak punya akses ke butik mewah di Paris atau New York. Jadi, mereka menciptakan kemewahan mereka sendiri. Mereka menggunakan pakaian sebagai bentuk signaling atau sinyal status sosial, persis seperti burung merak yang memamerkan bulunya untuk bertahan hidup di kawanannya. Pakaian jalanan atau streetwear ini lahir dari rasa penolakan. Ia adalah seragam bagi mereka yang merasa tidak dianggap oleh sistem arus utama.

III

Tentu saja, para elit fesyen pada awalnya merasa jijik dan tersinggung. Rumah mode Eropa melayangkan berbagai gugatan hukum kepada Dapper Dan hingga tokonya terpaksa tutup. Bagi kaum elitis, fesyen mewah harus eksklusif, kaku, dan punya aturan baku yang tidak boleh dilanggar. Tapi ada satu celah psikologis yang tidak disadari oleh merek-merek raksasa ini. Di Tokyo, seorang desainer bernama Hiroshi Fujiwara dan Nigo mulai memproduksi kaus dalam jumlah yang sangat sedikit. Bayangkan, hanya ada 50 kaus untuk 500 orang yang antusias ingin membeli. Teman-teman, di sinilah otak kita mulai dipermainkan secara masif. Dalam ilmu ekonomi perilaku, fenomena ini disebut prinsip kelangkaan. Ketika sebuah barang sulit didapat, otak kita meresponsnya sebagai ancaman kehilangan kesempatan, yang anehnya justru memicu hasrat berlebih. Kita mulai bertanya-tanya: kenapa barang pinggiran yang dulunya diremehkan ini mendadak jadi rebutan gila-gilaan? Apa rahasia besar yang membuat anak-anak muda rela tidur di trotoar berhari-hari demi sepasang sepatu kets?

IV

Jawabannya ada pada zat kimia di kepala kita sendiri, yaitu dopamin. Streetwear tidak lagi sekadar menjual baju untuk menutupi tubuh, mereka menjual sensasi berburu. Kultur drop atau merilis barang terbatas dalam waktu singkat dan acak menciptakan lonjakan dopamin yang sama persis dengan efek saat kita memenangkan undian. Menghadapi fenomena ini, industri fesyen mewah akhirnya sadar bahwa mereka sedang kalah telak. Kaum muda yang punya daya beli tidak lagi peduli dengan jas sutra rapi seharga puluhan juta. Mereka menginginkan sneakers langka yang bisa divalidasi oleh teman-teman tongkrongannya. Momen puncaknya terjadi ketika merek raksasa sekelas Louis Vuitton akhirnya "menyerah" dan justru mengangkat Virgil Abloh, seorang desainer streetwear keturunan imigran, sebagai direktur artistik mereka. Kultur pinggiran ini tidak lagi sekadar meniru merek mewah dari luar pagar. Mereka telah mendobrak gerbang, masuk, dan mengambil alih takhtanya. Secara sosiologis, ini adalah pergeseran dari Veblen goods (barang mahal yang dibeli murni untuk pamer kekayaan) menjadi pamer pengetahuan budaya. Uang yang banyak kini tidak cukup, kita harus punya "kredibilitas jalanan" untuk diakui keren. Fesyen elit pada akhirnya tunduk pada hukum jalanan.

V

Pada akhirnya, saat kita kembali melihat fenomena antrean panjang demi sebuah rilis jaket atau sepatu terbaru, mari kita coba lihat lebih dari sekadar konsumerisme buta. Ya, kita tahu persis ada trik pemasaran psikologis yang sangat manipulatif namun cerdas di baliknya. Tapi di intinya yang paling dalam, pergerakan streetwear adalah pengingat tentang betapa tangguhnya semangat manusia. Sebuah kultur yang murni lahir dari aspal jalanan, dari anak-anak yang terpinggirkan dan tidak diundang ke pesta mewah, ternyata mampu menundukkan industri paling eksklusif di dunia hanya dengan modal kreativitas dan rasa senasib. Kaus dengan logo kotak merah itu mungkin memang terlalu mahal jika kita hanya mengukur kualitas benangnya. Tapi bagi banyak orang di luar sana, mereka sebenarnya tidak sedang membeli selembar kain. Mereka membeli identitas. Mereka membeli rasa memiliki. Dan sebagai manusia biasa yang selalu mendambakan sebuah tempat di mana kita bisa diterima apa adanya, rasa memiliki memang tidak akan pernah ada harganya.